
A Place Called “There”
Suatu Tempat yang Disebut “di Sana”
Perjalanan Elia: Seorang Pahlawan yang Memiliki Kelemahan
Alkitab mengatakan, Elia adalah manusia biasa sama seperti kita.
Yakobus 5:17a
Ayat ini berbicara tentang bagaimana Elia adalah seorang manusia biasa saja, sama seperti kita. Namun, ia memperoleh hasil yang supernatural ketika ia berdoa dengan sungguh-sungguh (Yakobus 5:17b). Elia dipakai Allah dengan sangat luar biasa. Namun, pada satu titik ia merasa sangat putus asa sehingga ia meminta Allah untuk mengambil nyawanya (1 Raja-raja 19:4).
Elia tidak sempurna, tetapi ia memanggil api turun dari sorga sebanyak tiga kali. Ia adalah orang pertama yang membangkitkan seseorang dari kematian, dan ia menyebabkan kebangunan rohani terbesar dalam sejarah pada masanya. Perkataannya memicu dan juga mengakhiri kekeringan yang berlangsung selama tiga tahun, dan ia melipatgandakan makanan secara ajaib. Hanya ada dua orang yang tidak pernah meninggal dan ia adalah salah satunya—dalam keadaan hidup ia diangkat ke sorga. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari seorang pria seperti dia ini, baik secara positif maupun negatif.
Christian First Aid Kit
Kit Pertolongan Pertama Umat Kristen
Jagalah Hati Anda Saat Krisis Menerpa!
Ketika Anda sedang menghadapi krisis, ingatlah apa yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia disalibkan: “Janganlah gelisah hatimu” (Yohanes 14:1). Bayangkan bagaimana rasanya menjadi salah satu murid Yesus pada saat itu. Mereka melihat sendiri saat Dia ditangkap, dipukuli, dan disalibkan. Semua harapan dan impian mereka bertumpu pada-Nya, lalu Ia mati dan tampaknya telah dikalahkan. Kebingungan, kepedihan, dan rasa sakit akibat peristiwa itu saja mungkin sudah berat untuk ditanggung, belum lagi berbagai pertanyaan yang pasti melanda pikiran mereka: Kami telah berkorban begitu banyak, meninggalkan keluarga dan usaha, bahkan mempertaruhkan segalanya karena percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Apakah semua itu ternyata sia-sia? Kapan giliran kami ditangkap? Itu adalah tekanan dan beban ketakutan yang sungguh nyata.
Klik untuk membaca selengkapnya …
A Better Way to Pray
Berdoa dengan Cara yang Lebih Baik
Beberapa dekade yang lalu, saya sedang mengikuti sebuah pertemuan doa semalam suntuk, “membombardir gerbang sorga.” Saya ingat ketika saya memukul dinding dan berteriak, “Tuhan Allah, jika Engkau mengasihi orang-orang di Arlington, Texas, separuh saja dari kasihku, kami akan mengalami kebangkitan rohani!” Seketika itu juga, pikiran secepat kilat saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan teologi saya. Apa yang sedang saya pikirkan saat itu?
Apakah saya benar-benar percaya bahwa saya mengasihi orang-orang ini lebih daripada Allah mengasihi mereka? Tidak, bukan begitu. Seperti kebanyakan orang Kristen, saya percaya bahwa Allah marah terhadap kondisi manusia, dan sayalah yang harus memalingkan-Nya dari murka dan penghakiman. Saya sedang berdoa syafaat, atau setidaknya demikianlah yang saya pikirkan, memohon kepada Allah atas nama orang lain. Apa yang mungkin salah dengan hal itu?
The Believer’s Authority
Otoritas Orang Percaya
Inilah Alasan Mengapa Sembilan dari Sepuluh Kali Anda Masih Menanti.
Saya telah bertemu dengan ribuan orang yang percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan, melepaskan, dan menyediakan kebutuhan mereka—tetapi mereka tetap menanti dan berdoa, dan tidak ada yang terjadi. Saya jamin bahwa sembilan dari sepuluh kali, itu terjadi karena mereka belum memahami otoritas yang telah diberikan Allah kepada mereka.
Ini adalah salah satu hal terpenting dan paling mendasar yang dapat diajarkan oleh saya kepada Anda. Kebanyakan orang Kristen saat ini meminta kepada Allah untuk melakukan apa yang justru merupakan perintah-Nya agar dilakukan oleh mereka sendiri.
Recession? No Thanks-I’m Not Participating!
Resesi? Tidak, Terima Kasih-Saya Tidak Akan Berpartisipasi!
Dalam kitab Kejadian, kita belajar bahwa Ishak juga mengalami masa-masa sulit. Ada kelaparan di negeri itu (Kejadian 26:1), dan Ishak adalah orang asing di sana. Ia tidak memiliki tanah. Namun, orang-orang Filistin di sekitarnya panik. Mereka tidak bekerja di ladang mereka. Apa gunanya? Terjadi bencana kelaparan di negeri itu. Namun, Ishak melihatnya sebagai sebuah kesempatan dan memanfaatkan lahan mereka yang kosong.